Saturday, July 21, 2007

SIMETRI POLA 10 : MEMASTIKAN ALLAH HARUS ADA

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka ?. Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan ) yang benar dan waktu yang ditentukan dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan tuhannya”.
(QS : Ar-Ruum : 8)


Kita ringkas dahulu bagaimana proses evolusi terjadinya manusia darimulai dikandung. Bahan yang pertama membangun badan manusia yaitu campuran cairan sel jantan dan betina yang diisi oleh zat hidup yang dilepaskan oleh manusia. Proses evolusi selanjutnya berlangsung disebabkan didorong oleh tenaga tambahan, berupa makanan yang dimakan oleh ibu kita. Sempitnya alam kandungan menyebabkan rasa tidak betah kepada janin yang mulai mengerti, sampai pada akhirnya bergerak berusaha untuk dapat kelua. Sewaktu lahir dalam sepersekian detik badan bayi mekar menjadi besar. Disini evolusinya berlangsung wajar kembali, dalam tingkat kecepatan yang menurun.

Mencapai usia 20-an, mekarnya badan dan tenaga hampir tidak terlihat, tetapi masih dalam tingkat evolusi yang naik. Mekar maksimum berhenti sewaktu mencapai umur 30-35 atau 40 tahun. Disana mulai berlangsung evolusi turun. Akhirnya zat hidup atau ruh meninggalkan jasad setelah gaya nuklir lemah jasad tidak mampu mengikat zat hidup. Ikatan quark-quark dan lepton-lepton tercerai berai, zarah di dalam inti beradu, badan mulai busuk yang mengeluarkan bau. Disitu jasad hancur, kembali kepada tiada.

Rumus persamaan “Paul Dirac” menyatakan,jikalau elektron dalam keadaan negatif tanpa batas mendapat tenaga tambahan secukupnya, maka elektron tersebut akan meloncat kepada wujud yang terlihat, meninggalkan lubang yang massanya sama dengan zarah aslinya tapi mempunyai muatan yang berlawanan. Selanjutnya elektron tersebut condong akan jatuh cepat masuk kembali kepada lubangnya seolah-olah disedot oleh lubang tersebut.

Dari persamaan ini dan contoh jadinya manusia yang diwartakan dalam Surat Ar-Ruum ayat 8 di atas,kita mendapatkan suatu kesimpulan : sebelum terjadinya letusan besar, di alam baka proses diciptakannya alamraya itu berlangsung dalam dua tahap. Menurut simetri pola 10, awalnya terdapat 4 jenis zat hidup yang bercampur melangsungkan evolusi. Terus terdapat 4 jenis tenaga tambahan berupa hukum, yang mendorong meningkatkan evolusinya tanpa berhenti mencapai pada dan panas, sedikitnya 2 mc2, sampai dengan meletus yang menyebabkan keluar dari alam baka ke alam fana dalam wujud terlihat berupa alamraya.

Bersama dengan alamraya yang meneruskan evolusinya di alam fana, tenaga letsan yang dilepaskan oleh alamraya sewaktu beralih rupa ke alamfana juga mengalami evolusi di alam baka. Di alam fana, evolusi alamraya berlangsung dalam dua tahap yaitu : tahap mekar dan tahap menciut sampai dengan terjadi tumbukan besar, masuk kembali ke alam baka. Di alam baka keduakalinya atau alam baka akhir, alamraya meneruskan kembali evolusinya. Tapi tidak melaju cepat sampai maksimum sebab telah dinetralkan oleh evolusi tenaga yang dilepaskan sewaktu tumbukan besar.

Dari ulasan di atas terlihat, penciptaan alam semesta (baka dan fana) tersebut berlangsung dalamenam tahap. Empat tahap di alam baka dan dua tahan di alam fana. Dari yang empat di alam baka tersebut dua diantaranya berupa tahap akibat. Jadi jika dimasukkan ke dalam simetri pola-10, dari baka awal sampai dengan baka akir itu berupa pasangan tingkat sigma (akhir) yaitu : baka awal (sigma-plus*), baka akhir (sigma-nol*) dikarenakan diisi oleh komponen akibat dari dua alam (surga hasil dari evolusi dari alam baka langsung dan neraka hasil evolusi alam fana) yang sifatnya berlawanan dengan alam fana (sigma-minus*).

Pasangan tersebut benar-benar cocok dengan keterangan Al-Quran yang memberitakan diantaranya pada Surat Yunus dan Fushshilat :

“Sebenarnya Tuhan kalian yaitu Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa ………….” (QS. Yunus : 3)
“Maka beliau menciptakan tujuh langit (dan tujuh bumi) dalam dua masa ….” (QS. Fushshilat : 12)

Sebenarnya dua ayat di atas tersebut mengandung arti yang bertingkat-tingkat, tetapi pada ulasan ini hanya untuk garis besarnya saja. Enam masa yaitu peristiwa tahap-tahap dari awal sampai akhir penciptaan. Sedangkan dua masa mengandung arti dua alam yaitu fana dan baka. Tetapi seperti yang terlihat dalam gambar, baik alam baka aawal, alam fana, begitu pula pada alam baka akhir setiap dua tahapan berlangsung dalam 6 tingkat.

Sekarang kita kembali lagi kepada simetri pola-10 dalam tingkat keganjilan –1 atau tingkat sigma. Kenyataan penelitian laboratoirum mengatakan setiap komponen pasangannya mengandung tanda (*) yang menyatakan telah diisi oleh roh atau zat hidup. Hal itu mengandung arti bahwa dalam tingkat keganjilan–0 atau delta, pasangannya yaitu : roh (delta-dua-plus) baka awal (delta-plus) baka akhir (delta-nol) dan fana (delta-minus).

Tapi seperti yang telah diketahui, simetri seperti itu menunjukkan hasil omega-minus yang mengandung arti tidak seimbang. Sebab seharusnya simetri tersebut omega-nol, karena jika tidak seimbang menurut hukum fisika penciptaan tersebut tidak sempurna. Oleh karena itu,mau tidak mau kita harus melengkapi dengan pasangan simetrinya, yaitu pola-10 keganjilan-plus, ibarat antinya, yang dalam keganjilan-0 memperlihatkan pasangan : antiroh (delta-dua-minus), anti baka awal (delta-minus), anti baka akhir (delta-nol) dan anti fana (delta-plus).

Anti disini menyebutkan “bukan” atau “tidak” yang mengandung arti juga “diluar alam semesta” yang menurut Al-Quran “di ats Arsy”. “Beliau” bukan roh, bukan baka awal, bukan fana dan bukan baka akhir. Dzat yang begitu yang dapat menciptakan roh, yang tidak mempunyai awal, akhir dan yang tidak fana, tentu beda dengan wujud alam semesta dan segala isinya. Dirinya ibarat sumber dari segala yang hidup dan yang mati. Dikarenakan sumber dari segalanya, artinya tidak akan ada yang menyamai. Karena itu dirinya maha tunggal, maha kuasa, maha agung, maha gagah dan maha segalanya. Al-Quran mewartakan bahwa dirinya adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan hadirnya pasangan alam semesta itu, simetri pola-10 memperlihatkan hasil omega-nol yang langgeng sempurna, sebab alam semesta ibarat makhluk ciptaan yang sifatnya negatif tidak langgeng, dalam tingkat akhir atau sigma telah dikekalkan oleh sang Khalik ibarat pencipta yang sifatnya positif kekal. Jika dalam tingkat akhir makhluk tidak dikekalkan, artinya penciptaan tersebut tidak sempurna, sebab yang hadir akhirnya hanya pencipta saja tanpa ada yang menyaksikan. Begitu menurut hukum dasar fisika juga menurut Al-Quran dalam surat Ar-Ruum ayat 8 :
“diciptakannya alam semesta dan segala isinya itu tiada lain supaya menjadi saksi atas adanya Allah Yang Maha Kuasa”.

S. Anwar Effendie, Simetri Pola-10, Mastikeun Gusti Allah Kudu Aya, Galura, Hal :7, Minggu ii, Agustus 1992, Shafar 1413 H.

No comments: