Tuesday, August 23, 2011

Teori Jean Watson


Sumber – sumber Teori
Sumber-sumber teori Watson berasal dari pengetahuan keperawatan tradisional dan karya-karya dari Nightingale, Handerson, Krueter, dan Hall. Watson juga mengakui karya Leininger dan Gadow merupakan latar belakang karyanya. Dalam hasil karyanya baru-baru ini, Watson merujuk pada teori lainnya seperti Maslow, Heidegger, Ericson, Selye dan Lazarus, dengan pengembangan kerangka kerja yang melukiskan secara terperinci tentang ilmu pengetahuan dan kemanusian, menjelaskan kejadian-kejadian, eksistensial dan orientasi spiritual.
Teori Watson (1985) mungkin merupakan filosofi yang paling complex dari teori-teori keperawatan saat ini. Hanya beliau seorang pembuat teori keperawatan yang secara explisit mensupport konsep kejiwaan dan menekankan pada dimensi spiritual dari eksistensi manusia. Watson menyatakan bahwa filosofinya berorientasi pada existensi-phenomenologi, spiritual, dan bagian dari filosofi ketimuran. Watson juga menggambarkan secara substansial tentang humanistik, existensial dan psikologi transpersonal. Beberapa orang filosofer yang diketahui sebagai sumber oleh Watson diantaranya : Hegel, Marcel, Whitehead, Kierkegaard, dan Teilhard de Chardin.
Watson lebih menekankan pada kualitas keharmonisan interpersonal, transpersonal, empati, dan keramahan pandangan dari Carl Rogers, serta beberapa penulis psikologi lain. Rogers merumuskan gagasannya mengenai perilaku manusia bahwa :“hanya klien yang tahu betul terhadap rasa sakit yang dideritanya, seorang fasilitator hanya akan memberikan petunjuk mengenai proses terapeutik dari keluhan klien”. Rogers juga mengungkapkan bahwa dengan mengerti kondisi klien maka therapist akan mudah untuk diterima oleh klien dan hal tersebut merupakan suatu langkah yang positif.
Therapist membantu klien dengan cara mengklarifikasi dan mengungkapkan perasaan-perasaan yang belum jelas bagi klien. Untuk menyelesaikan tujuan ini therapist harus mengerti maksud, perasaan, dan sikap klien. Perhatian yang hangat dari therapist memudahkan dalam memperoleh pengertian dari klien. Konsep lain dari teori Rogers yang diadopsi oleh Watson adalah hubungan therapist-klien lebih penting dalam mencapai tujuan suatu asuhan daripada metode-metode tradisional. Rogers juga mengungkapkan suatu pernyataan :” dalam tahun-tahun pertama keprofesionalan saya, saya selalu melontarkan suatu pertanyaan : apa yang dapat saya lakukan (pengobatan) untuk mengubah kondisi klien ?” Saat ini saya mengucapkan pertanyaan : apa yang dapat saya lakukan untuk membina hubungan dengan orang ini, boleh jadi dengan menggunakan tumbuh kembangnya”.
Pada beberapa poin Watson menggarisbawahi asumsinya yaitu keyakinan dasar dan nilai. Beliau sangat mementingkan existensi manusia pada kejiwaannya. Sama halnya seperti semangat, bagian dalam diri dan esensi juga digunakan pada kejiwaan. Karakterisitik dari jiwa diidentifikasikannya berupa kewaspadaan diri, derajat kesadaran yang lebih tinggi dan lebih baik, kekuatan dari dalam diri, power, intuitif, pengalaman batin dan kelanjutan dari setelah kematian fisik. Konsep kejiwaan ini sudah tentu merupakan filosofi ketimuran walaupun secara umum kata “timur” sebagai sumber tidaklah mempunyai arti. Sebagai filosofi ketimuran meliputi keseluruhan pikiran manusia mulai dari material hingga spiritual.
Watson meyakini latar belakang kekuatan seni liberal adalah penting bagi proses perawatan holistik bagi klien. Watson juga meyakini mempelajari tentang kemanusiaan dapat memperluas dan meningkatkan kemampuan berpikir dan perkembangan personal. Watson membandingkan status ilmu keperawatan dengan mitologi Danaides yang mencoba mengisi wadah yang retak dengan air hanya untuk melihat aliran air yang keluar dari retakan wadah tersebut. Sampai keperawatan menggabungkan teori dan praktek melalui kombinasi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, sehingga dia yakin akan terlihat jelas keretakan diatas dalam dunia ilmu keperawatan.


ASUMSI-ASUMSI UTAMA
Pada bukunya yang pertama, Nursing : The Philosophy and Science of Caring, Watson menyatakan asumsi-asumsi utama ilmu caring dalam keperawatan :
1. Caring hanya bisa efektif didemonstrasikan dan dipraktekkan secara interpersonal.
2. Caring berisi carative factor yang menghasilkan kepuasan dari kebutuhan tertentu manusia.
3. Efektif caring mempromosikan tentang kesehatan dan pertumbuhan individu atau keluarga.
4. Respon caring terhadap seseorang tidak hanya pada saat sekarang tapi juga pada hal yang akan terjadi pada mereka.
5. Lingkungan caring menawarkan pengembangan potensi yang membiarkan seseorang memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya pada waktu yang telah ditentukan.
6. Caring lebih “healthogenic” dari pada curing (pengobatan). Pelaksanaaan caring mengintegrasikan pengetahuan biophisikal dengan mengetahui tingkah laku manusia guna menghasilkan kesehatan dan untuk menyediakan bantuan bagi yang sakit. Oleh karena itu ilmu caring adalah melengkapi ilmu curing.
7. Pelaksanaan caring adalah pusat dari keperawatan.

Gaut mengidentifikasikan tiga kondisi yang diperlukan pada caring yaitu (1) kesadaran dan pengetahuan tentang kebutuhan seseorang dalam perawatan, (2) Keinginan untuk bertindak yang berdasarkan ilmu pengetahuan, (3) Perubahan positif sebagai hasil dari caring yang semata-mata berdasar pada kesejahteraan seseorang. Watson melebarkan pekerjaan Gaut ini dengan menambahkan dua kondisi tambahan : sebuah nilai dasar dan komitmen moral untuk merawat dan keinginan untuk merawat.

Pada buku keduanya Watson mengatakan bahwa “ Pendidikan keperawatan dan system pemberian perawatan kesehatan harus berdasar pada nilai-nilai manusia dan perhatian kepada kesejahteraan yang lainnya”. Untuk lebih menggambarkan tanggung jawab sosial dan etika dari keperawatan dan utnuk menjelaskan secara lengkap konsep perawatan manusia dalam keperawatan, Watson mengajukan sebelas asumsi yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan :

1. Peduli dan cinta yang terpenting dan kekuatan psikis yang universal.
2. Peduli dan cinta, yang sering terlewatkan adalah batu permata dari manusia yang memenuhi kebutuhan manusia.
3. Kemampuan mendukung ideal caring dan ideologi dalam praktek akan berpengaruh pada perkembangan peradaban dan menentukan kontribusi keperawatan dalam masyarakat.
4. Caring pada diri kita sendiri adalah prasyarat untuk caring pada orang lain.
5. Menurut sejarah, keperawatan telah ditetapkan sebagai sebuah perawatan manusia dan caring adalah berhubungan dengan sehat-sakit seseorang.
6. Caring adalah central focus dari praktek keperawatan – intisari keperawatan
7. Caring, pada tingkat manusia telah terus meningkat yang ditekankan dalam system pemberian perawatan kesehatan.
8. Pondasi keperawatan caring telah disublimasikan oleh kemajuan teknologi dan batasan-batasan institusional.
9. Sebuah isu yang significant pada keperawatan saat ini dan yang akan datang adalah pemeliharaan dan kemajuan dari perawatan manusia.
10. Hanya melalui hubungan interpersonal maka perawatan manusia dapat efektif untuk dijalankan dan dipraktekkan.

Nursing sosial, moral, dan ilmiah berkontribusi pada sesama manusia dan masyarakat yang berkomitmen pada perawatan manusia yang ideal dalam teori, praktek, dan peneliti

Penggunaan Fakta – fakta EmpirisWatson dan koleganya berupaya untuk mengkaji konsep caring melalui pengumpulan data yang digunakan pada pengklasifikasian prilaku caring untuk melukiskan / memaparkan persamaan dan perbedaan antara apa yang menjadi pertimbangan perawat dan apa pula yang menjadi pertimbangan klien dalam perawatan, dan untuk menghasilkan hipotesa yang dapat di uji coba dalam lingkup konsep asuhan keperawatan. Mereka mempelajari respon dari register nurse, siswa perawat, dan klien melalui pertanyaan terbuka meliputi beberapa aspek : “(1) taking care of and (2) caring about” pasien-pasien. Penemuan-penemuan mereka mengungkapkan ketidaksesuaian dari segi pertimbangan-pertimbangan nilai nilai terpenting bagi klien, siswa perawat dan register nurse. Mereka menekankan pada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut guna mengklarifikasi prilaku dan nilai apa yang penting dari masing-masing sudut pandang. Penelitian juga melahirkan sebuah pertanyaan tentang perbedaan-perbedaan nilai pada tiap-tiap orang di berbagai keadaan juga pertanyaan terhadap kebutuhan minimum sebelum dilakukan evaluasi terhadap asuhan yang diberikan.
Penelitian Watson memasukkan caring secara empiris tapi penekanan dalam metodologinya harus dimulai dari fenomena perawat yang lebih baik daripada ilmu pengetahuan dasar. Watson menggunakan ilmu kemanusiaan, phenomologi empiris dan phenomologi transcendent dalam pekerjaan akhirnya. Baru-baru ini beliau telah melakukan penelitian bahasa baru seperti kiasan dan puisi, pengkomunikasian, penyampaian, serta menguraikan human caring dan proses penyembuhan.

Konsep Utama dan DefinisiBerdasarkan teorinya tentang praktek keperawatan pada 10 carative factor. Saling mempunyai komponen pendekatan yang dinamis sehubungan dengan keterlibatan individu dalam hubungannya dengan keperawatan.
Tiga utama factor saling ketergantungan disebut sebagai “fondasi filosofi pada ilmu keperawatan”.
 
  1. Membentuk dan manghargai system nilai humanistic dan altruistic.  : Humanistic dan altruistic adalah sikap yang didasari pada nilai-nilai kemanusiaan yaitu menghormati otonomi dan kebebasan klien terhadap pilihan yang terbaik menurutnya, serta mementingkan orang lain dari pada diri sendiri. Watson memandang manusia sebagai individu yang merupakan totalitas dan bagian-bagian, memiliki harga diri di dalam dan dari dirinya yang memerlukan perawatan, penghormatan, dipahami dan kebutuhan untuk dibimbing. Lingkungan (perawat) yang mempunyai sifat “caring” dapat meningkatkan dan membangun potensi seseorang untuk membuat pilihan tindakan terbaik bagi dirinya. (George, 1990; Marriner-Tomy, 1994).
  2. Menanamkan sikap penuh pengharapan : Faktor ini menggabungkan nilai-nilai humanistic-altruistik dalam memfasilitasi peningkatan asuhan keperawatan yang holistic dan kesehatan yang positif terhadap kelompok klien. Faktor ini menjelaskan tentang peran perawat dalam mengembangkan hubungan timbal balik perawat-klien yang efektif dan meningkatkan kesejahteraan dengan membantu klien mengadopsi perilaku hidup sehat. Perawat mendorong penerimaan klien terhadap pengobatan yang dilakukan kepadanya dan membantunya memahami alternatif terapi yang diberikan. Memberikan keyakinan akan adanya kekuatan penyembuhan atau kekuatan spiritual dan penuh pengharapan (George, 1990 ; Marriner-Tomy, 1994 ; Stuart & Laraia,1998).
  3. Menanamkan sensitifitas atau kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain : Penerimaan terhadap perasaan diri (awareness of self) merupakan kualitas personal yang harus dimiliki perawat sebagai orang yang akan memberikan bantuan kepada klien. Maka perawat harus mampu menilai perasaannya sendiri, melakukan aksi dan reaksi sesuai yang dirasakan. Dengan sensitifitas atau kepekaan terhadap diri sendiri, maka perawat menjadi lebih apa adanya dan lebih sensitif kepada orang lain dan menjadi lebih tulus dalam memberikan bantuan kepada orang lain atau empati sebagai elemen yang esensial dalam proses interpersonal perawat-klien (George, 1990 ; Marriner-Tomy, 1994; Stuart & Laraia, 1998) 
  4. Mengembangkan hubungan saling percaya dan saling membantu : Hubungan saling percaya dan saling membantu ini penting bagi terbentuknya “transkultural caring” atau Saling bersikap “caring” antara perawat-klien yang dapat meningkatkan penerimaan perwujudan perasaan baik positif maupun negatif. Hubungan ini menyangkut 3 (tiga) hal yaitu : 1) Kecocokan yang meliputi kesesuaian dengan kenyataan, kejujuran, ketulusan (tidak meminta imbalan) dan nyata.2) Nonpossesive warmth ditunjukan sebagai bicara dengan volume suara yang rendah, rileks, sikap terbuka dan dengan ekspresi wajah yang sesuai dengan komunikasi orang lain. 3) Komunikasi efektif berhubungan dengan respon kognitif, afektif dan perilaku untuk mengembangkan hubungan dengan klien. (George, 1990; Marriner – Tomy, 1994; Stuart & Laraia, 1998)
  5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif : Saling berbagi perasaan adalah konsekuensi hubungan perawat – klien. Perawat harus disiapkan untuk menerima perasaan positif dan negative tersebut. Perawata harus memahami dan menerima pemikiran dan perasaan baik positif maupun negatif yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda. ( George, 1990 ; Marriner – Tomy, 1994 ; Stuart & Laraia, 1998)
  6. Menggunakan metode sistematis dalam menyelesaikan maslah caring untuk pengambilan keputusan secara kreatif dan individualistik : Proses keperawatan merupakan pendekatan dalam melakukan praktek keperawatan profesional. Perawat menggunakan proses keperawatan yang sistematis dan terorganisir untuk meyelesaikan masalah keperawatan klien, memberikan pelayanan yang professional dan bermutu, serta untuk menghilangkan image tradisional perawat sebagai tangan kanan dokter.
  7. Meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal : Faktor ini penting bagi perawatan karena membedakan caring dengan curing melalui proses belajar mengajar, mengizinkan klien memperoleh informasi dan pertanggung jawaban sehat-sakit bagi klien. Perawat memfasilitasi proses dengan tehnik pembelajaran yang telah dibuat untuk memberi kesempatan klien melakukan perawatan mandiri (self care), menentukan kebutuhan diri dan memberikan peluang untuk pertumbuhan diri mereka. Hal ini sesuai dengan asumsi dasar teori caring dari Watson bahwa caring dapat efektif bila dilakukan dan dipraktekkan melalui hubungan interpersonal sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu dan keluarga dan caring lebih bersifat healthogenic dari pada curing (Tomy, 1994).
  8. Menciptakan lingkungan fisik, mental, social dan spiritual yang suportif, protektif dan atau korektif: Perawat harus mengenal pengaruh lingkungan internal dan eksternal terhadap sehat-sakit individu. Konsep yang relevan dengan lingkungan internal adalah kesehatan mental dan spiritual serta kepercayaan terkait dengan sosiokultural sedangkan variabel epidemiologi dan kenyamanan, privasi/kerahasiaan, keselamatan, kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar adalah variabel eksternal yang mempengaruhi sehat-sakit
  9. Memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan penuh penghargaan dalam rangka mempertahankan keutuhan dan martabat manusia : Perawat harus mengenal kebutuhan biofisikal, psikofisikal, psikososial dan interpersonal dirinya dengan klien. Kebutuhan klien pada tingkat paling rendah adalah biofisikal, misal makan-minum, eliminasi, ventilasi. Kebutuhan yang lebih tinggi yaitu psikofisikal, misalnya kemampuan aktivitas dan seksual, serta kebutuhan psikososial yaitu kebersihan dan afiliasi, sedangkan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang lebih tinggi dari kebutuhan intrapersonal dan interpersonal. Hal ini sesuai denagn asumsi dasar teori caring bahwa caring menjamin adanya kepuasan terhadap kebutuhan manusia, karena caring mengintegrasikan pengetahuan biofisikal dengan pengetahuan perilaku manusia untuk meningkatkan kesehatan dan memberi pelayanan bagi mereka yang sakit. Faktor ini juga sesuai dengan definisi sehat menurut Watson yaitu dicapainya level yang tinggi secara menyeluruh dan fungsi-fungsi fisik, mental dan social, serta kemampuan adaptasi dan pemeliharaan kesehatan pada level fungsional setiap hari.
  10. Mengijinkan untuk terbuka pada eksistensial-fenomenologikal dan dimensi spiritual caring serta penyembuhan yang tidak dapat dijelaskan secara utuh dan ilmiah melalui pemikiran masyarakat modern

 
Fenomenologi menguraikan tentang data suatu situasi yang membantu pemahaman klien terhadap fenomena. Psikologi eksistensial adalah keberadaan ilmu tentang manusia yang digunakan untuk menganalisis fenomenologikal. Watson menyatakan factor ini sulit untuk dipahami dan yang termasuk hal ini adalah pengalaman berpikir dan memprovokasi untuk pemahaman yang lebih baik. (Tomy,1994)

 

 

 
Manifestasi perilaku caring adalah :

 
 Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang bersifat ritual demi proses penyembuhannya

 
 Mampu memfasilitasi kebutuhan klien dan keluarga terhadap keinginan melakukan terapi alternative sesuai pilihannya

 
 Memotivasi klien dan keluarga untuk beserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa

 
 Menyiapkan klien dan keluarganya ketika menghadapi fase berduka

 

 
 
Existential psychology adalah sebuah ilmu tentang eksistensi manusia yang menggunakan analisa phenomenological. Watson mempertimbangkan faktor-faktor ini akan sulit untuk dimengerti.
Watson percaya bahwa perawat mempunyai tanggung jawab pada 10 caratif factor dan memfasilitasi pengembangan klien dalam area promosi kesehatan melalui aksi pencegahan (preventif). Tujuan ini dapat dipenuhi dengan cara mengajarkan klien tentang perubahan personal untuk mempromosikan kesehatan, menyiapkan situasi yang mendukung, mengajarkan metode pemecahan masalah, dan mengenali kemampuan koping dan adaptasi terhadap kehilangan.
PERNYATAAN-PERNYATAAN TEORITIS
Dalam filosofi dan ilmu caring, Watson mencoba menggambarkan sebuah hasil dari aktivitas ilmiah pada aspek kehidupan manusia. Dengan kata lain beliau mencoba membuat keperawatan dalam hubungan timbal balik dari kualitas hidup, termasuk kematian, juga perpanjangan waktu hidup.
Watson berkeyakinan keperawatan berhubungan dengan promosi dan pemulihan kesehatan dan pencegahan sakit. Kesehatan, lebih dari terhindar dari sakit adalah sebuah konsep khayal karena itu merupakan subyektif.. Kesehatan mengacu pada kesatuan dan keselarasan dari pikiran, tubuh, dan jiwa dan dihubungkan dengan derajat kesamaan antara diri sendiri sebagai perceived dan diri sendiri sebagai experienced.
Berkaitan dengan Watson, caring adalah sebuah istilah keperawatan yang mewakili faktor-faktor yang digunakan para perawat untuk memberikan pelayanan kesehatan pada klien. Beliau menyatakan dengan menyadari bahwa individu adalah unik maka caring person dapat merasakan keunikan yang ada pada orang lain.
Dengan menggunakan 10 carative factors perawat dapat menyediakan pelayanan pada berbagai macam klien. Setiap carative factor menggambarkan proses caring dari bagaimana seorang klient mempertahankan kesehatannya atau mati dalam keadaan damai. Pada sisi lain Watson menggambarkan “curing” sebagai istilah medis yang mengacu pada penyembuhan penyakit.
Pada pekerjaan awalnya, Nursing: The Philosophy and Science of Caring, Watson menggambarkan pendapat dasar dari ilmu keperawatan :
1. Caring (and nursing) ada pada setiap kelompok masyarakat. Setiap kelompok mempunyai beberapa orang yang peduli pada yang lain. Prilaku caring di tularkan oleh kultur profesi sebagai jalan yang uniq. Kesempatan bagi para perawat untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut dan melibatkan tingkat analisa yang lebih tinggi dari masalah yang ada dan berhubungan dengan pendidikan dan praktek yang membolehkan perawat mengkombinasikan orientasi kemanusiaan dengan ilmu pengetahuan yang relevan.
2. Sering terjadi pertentangan antara teori dan praktek atau antara ilmu ilmiah dengan aspek artisitik dari caring karena adanya pemisahan antara nilai-nilai ilmiah dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Mengembangkan pekerjaannya yang terdahulu, Watson menambahkan beberapa komponen sebagai conteks dari pengembangan teori ilmu manusia.
1. Sebuah filosofi dari kebebasan, pilihan, dan tangungjawab manusia.
2. Sebuah ilmu biologi dan psikologi dari holism (hubungan antara person denga orang lain dan alam)
3. Sebuah ilmu epistemology yang membolehkan tidak hanya pada empiris tapi juga untuk kemajuan dari estetika, nilai etis, intuisi, dan proses penemuan.
4. Sebuah ontology dari ruang dan waktu
5. Sebuah konteks interhuman events, proses dan relationships.
6. Sebuah dunia ilmiah yang terbuka.
Pendapat dasar yang dinyatakan Watson dalam “Nursing: Human Science and Human Care” adalah refleksi dari aspek interpersonal-transpersonal-spiritual dari pekerjaannya.
Aspek-aspek dibawah ini menunjukkan integrasi dari keyakinannya dan nilai tentang hidup manusia dan menyiapkan pondasi untuk pengembangan teorinya lebih lanjut.
1. Pikiran dan emosi seseorang adalah jendela dari jiwanya
2. Tubuh seseorang terkurung dalam ruang dan waktu tapi pikiran dan jiwanya tidak terkurung didalam alam semesta ini.
3. Akses pada tubuh, pikiran dan jiwa seseorang adalah memungkinkan selama dia merasa diperlakukan secara utuh.
4. Semangat, inner self, atau jiwa seseorang ada dan untuk dirinya sendiri.
5. Manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam caring, jalan kasih sayang.
6. Untuk mendapatkan solusi diperlukan mendapatkan arti
7. Totalitas pengalaman pada moment yang diberikan mendasari lapangan phenomenal.
Watson meneruskan pekerjaannya pada berbagai aspek dari teorinya. Saat ini banyak pekerjaanya terfokus pada pengembangan dan penggambaran kompetisi caring ontological.
LOGICAL FORM
Kerangka kerja digambarkan dalam sebuah logical form. Ini berisi ide yang luas dan dialamatkan pada banyak situasi dari rangkaian sehat-sakit. Definisi Watson tentang caring adalah kebalikan dari curing yang membedakan keperawatan dari obat-obatan. Konsep ini sangat membantu mengklasifikasikan ilmu keperawatan terpisah dari ilmu pengetahuan yang lain.
Perkembangan dari teori sejak 1979 telah menuju kearah penjelasan seorang perawat dan seorang klien. Penekanan yang lain adalah tentang faktor phenomenological dan faktor spiritual.
Teori Watson menggunakan pondasi dari teori lain, seperti Rogers, Erikson, dan Maslow. Beliau tetap dalam dukungannya pada pendidikan keperawatan yang menyertakan pengetahuan holistik dari banyak disiplin ilmu yang lain dan mengintegrasikan kemanusiaan, seni, dan ilmu pengetahuan. Beliau yakin peningkatan system pelayanan kesehatan dan kebutuhan pasien menghendaki perawat mendapatkan pendidikan yang lebih luas dan liberal.. Ideal/content/teori dari pendidikan liberal harus terintegrasi kedalam pendidikan keperawatan profesional.

No comments: